Saya minta sesuatu pada Allah SWT.
Jika Allah SWT memberinya padaku,
saya gembira sekali saja.
Namun jika Allah SWT tidak memberinya padaku,
saya gembira sepuluh kali lipat.
Sebab, yang pertama itu pilihanku,
sedangkan yang kedua itu pilihan Allah SWT.
-Ali ibn Abi Thalib.
Senin, 27 Februari 2017
Teori Sifat Kepribadian Semi Ilmiah dan Ilmiah
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh.
Hai teman-teman!
Apa kabar semua? Saya berharap teman-teman semua sehat sentosa dan selalu
dirahmati oleh Allah SWT.
Dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Personality Development, saya ingin sedikit bercerita
tentang kepribadian saya.
Langsung saja masuk
ke dalam materi..
Apabila dikaitkan dengan materi kuliah Personality
Development, saya disini mengambil teori sifat pada masa semi ilmiah dan
ilmiah.
Masa semi ilmiahnya
saya ambil dari teori Hippocrates yang disempurnakan oleh Galenus.
Galenus
menyimpulkan 4 ciri khas sifat tipe
kepribadian, yaitu Sanguinis, Melancholis, Choleris dan Phlegmatis.
Nah, menurut saya
dari keempat teori Galenus, saya masuk dalam 2 kategori tersebut, yaitu sifat Sanguinis
dan Phlegmatis.
Pada sifat
sanguinis ini, terdapat banyak kesamaan terhadap sifat saya, sebagai contoh:
• Suasana
perasannya selalu penuh harapan, segala sesuatu pada suatu waktu dipandangnya
penting, tetapi sebentar kemudian tidak dipikirkannya lagi. Sangunicus sering
membuat janji tentang sesuatu tetapi jarang menepatinya, karena apa yang menjanjikan
itu tidak dipikirkannya secara mendalam apakah dia dapat memenuhinya atau tidak.
• Senang menolong
orang lain, tetapi tidak dapat dipakai sebagai sandaran.
• Dalam pergaulan
peramah dan periang.
• Umumnya bukan
penakut, tetapi kalau bersalah sukar bertaubat; dia menyesal, tetapi sesal itu
lekas lenyap.
• Lekas bosan jika
dihadapkan dengan suatu persoalan yang rumit, tetapi jika hanya untuk
bersenang-senang atau hanya bermain saja tidak ada jemu-jemunya.
Dan pada diri
saya juga terdapat sifat Phlegmatis.
Phlegma sebagai
kelemahan, ialah kecenderungan ke arah ketidakpekaan, alasan yang kuat tidak
cukup untuk merangsangnya untuk bertindak, ketidakpekaan ini menyebabkan adanya
kecenderungan ke arah kejemuan dan mengantuk.
Phlegma sebagai
kekuatan sebaliknya, merupakan sifat yang tidak mudah bergerak tetapi kalau
sudah bergerak lalu tahan lama. Sifat-sifat khas golongan ini ialah:
• Lambat menjadi
panas, tetapi panasnya itu tahan lama.
• Tidak mudah
marah.
• Senang mengamati
dan menjadi penengah apabila terdapat suatu masalah.
Itu semua
berdasarkan teori semi ilmiah.
Berdasarkan teori ilmiahnya saya menganut
teori Tabula Rasa oleh John Locke.
John Locke
berpendapat bahwasanya 'manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih
dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang tersebut ditentukan oleh
pengalaman yang didapatkannya'.
Berdasarkan
pengalaman yang saya dapat selama ini, proses remaja saya tidak saya lalui seperti
kebanyakan anak-anak remaja lainnya yang ‘mungkin’ bisa menikmati bebasnya
pergaulan diluar, karena masa remaja saya dihabiskan dengan kegiatan religius
yaitu menghabiskan masa SMP-SMA di Pondok Pesantren. Alhasil, selama hidup di
Pondok Pesantren hidup saya sangatlah disiplin, teratur dan mandiri, mengikuti
aturan-aturan dan sunnah-sunnah yang diajarkan oleh para Ustadz. Itu semua
karena lingkungan sekitar saya yang sangat mendukung untuk berlomba-lomba dalam
hal kebaikan seperti yang telah diajarkan.
Selepas dari
Pondok Pesantren dan melanjutkan studi di STTKD, saya mulai mengenal pergaulan
baru yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya di Pondok Pesantren. Sebagai
contoh, saya mulai berani mengobrol dengan lawan jenis yang sebelumnya pada
saat mondok tidak berkomunikasi terhadap lawan jenis.
Hehehe..
Sedikit cerita dari saya, semoga bermanfaat untuk pembelajaran bagi kita semua, saya cukupkan
sekian postingan kali ini.
Wabillahit-taufiq
wal-hidayah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Langganan:
Postingan (Atom)