Senin, 27 Februari 2017

Teori Sifat Kepribadian Semi Ilmiah dan Ilmiah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.


Hai teman-teman! Apa kabar semua? Saya berharap teman-teman semua sehat sentosa dan selalu dirahmati oleh Allah SWT.


Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Personality Development, saya ingin sedikit bercerita tentang kepribadian saya. 

Langsung saja masuk ke dalam materi..

Apabila dikaitkan dengan materi kuliah Personality Development, saya disini mengambil teori sifat pada masa semi ilmiah dan ilmiah.

Masa semi ilmiahnya saya ambil dari teori Hippocrates yang disempurnakan oleh Galenus.
Galenus menyimpulkan 4  ciri khas sifat tipe kepribadian, yaitu Sanguinis, Melancholis, Choleris dan Phlegmatis.

Nah, menurut saya dari keempat teori Galenus, saya masuk dalam 2 kategori tersebut, yaitu sifat Sanguinis dan Phlegmatis.

Pada sifat sanguinis ini, terdapat banyak kesamaan terhadap sifat saya, sebagai contoh:

• Suasana perasannya selalu penuh harapan, segala sesuatu pada suatu waktu dipandangnya penting, tetapi sebentar kemudian tidak dipikirkannya lagi. Sangunicus sering membuat janji tentang sesuatu tetapi jarang menepatinya, karena apa yang menjanjikan itu tidak dipikirkannya secara mendalam apakah dia dapat memenuhinya atau tidak.

• Senang menolong orang lain, tetapi tidak dapat dipakai sebagai sandaran.

• Dalam pergaulan peramah dan periang.

• Umumnya bukan penakut, tetapi kalau bersalah sukar bertaubat; dia menyesal, tetapi sesal itu lekas lenyap.

• Lekas bosan jika dihadapkan dengan suatu persoalan yang rumit, tetapi jika hanya untuk bersenang-senang atau hanya bermain saja tidak ada jemu-jemunya.


Dan pada diri saya juga terdapat sifat Phlegmatis.

Phlegma sebagai kelemahan, ialah kecenderungan ke arah ketidakpekaan, alasan yang kuat tidak cukup untuk merangsangnya untuk bertindak, ketidakpekaan ini menyebabkan adanya kecenderungan ke arah kejemuan dan mengantuk.

Phlegma sebagai kekuatan sebaliknya, merupakan sifat yang tidak mudah bergerak tetapi kalau sudah bergerak lalu tahan lama. Sifat-sifat khas golongan ini ialah:

• Lambat menjadi panas, tetapi panasnya itu tahan lama.

• Tidak mudah marah.

• Senang mengamati dan menjadi penengah apabila terdapat suatu masalah.

Itu semua berdasarkan teori semi ilmiah.


Berdasarkan teori ilmiahnya saya menganut teori Tabula Rasa oleh John Locke.

John Locke berpendapat bahwasanya 'manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang tersebut ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya'.

Berdasarkan pengalaman yang saya dapat selama ini, proses remaja saya tidak saya lalui seperti kebanyakan anak-anak remaja lainnya yang ‘mungkin’ bisa menikmati bebasnya pergaulan diluar, karena masa remaja saya dihabiskan dengan kegiatan religius yaitu menghabiskan masa SMP-SMA di Pondok Pesantren. Alhasil, selama hidup di Pondok Pesantren hidup saya sangatlah disiplin, teratur dan mandiri, mengikuti aturan-aturan dan sunnah-sunnah yang diajarkan oleh para Ustadz. Itu semua karena lingkungan sekitar saya yang sangat mendukung untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan seperti yang telah diajarkan.

Selepas dari Pondok Pesantren dan melanjutkan studi di STTKD, saya mulai mengenal pergaulan baru yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya di Pondok Pesantren. Sebagai contoh, saya mulai berani mengobrol dengan lawan jenis yang sebelumnya pada saat mondok tidak berkomunikasi terhadap lawan jenis.

Hehehe..

Sedikit cerita dari saya, semoga bermanfaat untuk pembelajaran bagi kita semua, saya cukupkan sekian postingan kali ini.

Wabillahit-taufiq wal-hidayah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar